Senja, yang kutahu rimanya adalah waktu pulang setelah bergelut dengan matahari terang. Seperti saat ini, saat senja yang kuingat hanya jalan pulang: kematian, jalan pulang yang sepi.
Teringat lagi hari-hari ketika engkau mengajariku membaca duri, mengeja batu jalanan.
Kini tinggal aku yang mengembara, menyusuri taman- taman persinggahan, memetik hikmah di kebun kehidupan.
Perempuan ini, kakek…
Sering mematung dijendela, menatap gerimis kuat, mendengar suara angin basah, menikmati embusnya yang menyelusup dan memandang musim hujan bergerak pelan untuk berfikir dalam-dalam tentang singkatnya hidup. Kemudian adakala ia kaku memilih-milih jalan sahaja. Dan tahukah? Perempuan ini selalu merasa ruang begitu luas saat sendiri dan memilih diam walaupun mata masih memicing. Kemudian pura-pura memejam hingga akhirnya benar-benar tidur
Ia pun masih mengejar sesuatu yang tersembunyi diwaktu tertinggal, merangkai mimpi-mimpinya yang belumlah utuh, lalu belajar menikmati kebahagiaan dan kesedihan dari gegas-gegas langkah dan teringat kata-katamu “kalau jatuh, jangan menangis”
Kakek, ada senja yang ramah sore ini, apa kabarmu disana?
Memberi senyum pada setiap orang yangditemui sangat mudah saya lakukan tapi untuk menjadi seseorang dengan kepribadian hangat, care, supel dan sejenisnya adalah hal yang sedikit sulit. Ribet juga ya kalau punya karakter dingin dan tak begitu suka banyak bicara dilain waktu mesti menciptakan nuansa nyaman maupun keramahan buat orang lain. Dengan tipikal karakter seperti ini ternyata berpengaruh besar pada profesi yang sedang ingin saya geluti. Dalam tiap kali training penyiar saja masih terasa begitu kaku, hasil rekaman pun seringkali mendapat kritikan bahwa saya kurang hangat dalam membawakan sebuah program. Tentu saja dalam artian hangat yang tetap dalam koridor syar’i.
It’s not real me! Rasanya bener deh begitu perasaan saya. Sampai-sampai mengatakan perubahan menuju seseorang yang “hangat” adalah sebuah kepalsuan. Namun akhirnya perlahan saya mulai menipiskan perasaan tak nyaman tersebut walau pun memang butuh proses, perlu belajar, karna pelatih yang juga menjabat pimpinan direksi suatu hari mengatakan kalimat ini, “ Menjadi seseorang yang baru bukanlah kepalsuan, tapi ini demi umat!” tegasnya. Saya memahamkan diri bahwa berubah menjadi seseorang yang baru dengan karakter lebih hangat bukanlah sebuah kesalahan. Bagaimanapun perlu untuk mengembangkan diri serta memperluas kemampuan. Dan bukankah seorang muslim memang mestinya ramah, mudah bergaul dan hangat pada orang lain?? Hmmm, demi umat, mudah-mudahan niat tersebut tidak luntur dihati ini.
Kemarin memang sudah terlalu banyak kata maka izinkan sejenak merenung diam tak memandang cahaya hingga hanya hari yang menemani serta catatan-catatan kebekuan, dingin tanpa syarat
Tidak merasa indah hati tak menjadi bias, adakah salah? tangis dan amarah memang telah mengering sejak berbulan-bulan lalu biarkan saja ketidakmungkinan memenuhi pikiran bebas melakoni dengan khusyu layaknya burung bebas bergelayut dimanapun
semakin jauh pergi menuntas dan berujar tentang keinginan hanya diriNya mendengar menjadi bait-bait beribu pertanyaan barangkali nyaman menoreh kisah disepotong kertas melumat resah simpan dalam ketukan kata-kata kemanakah jiwa terbang? kaki tak punya peta lain kompas hanya mengarah satu ; Aku tetap milikMU
Hari ini cerah, langit biru, matahari pecah sinarnya. Namun mendung bergelayut dirumahku. Ada air mata tumpah disana. Ada kesedihan mendalam dari mereka yang merasa memiliki. Air mata yang juga menghampiriku. Hari ini, aku meraba perasaanmu, Ibu. Menyamakan rasa kita pada lelaki yang sangat kau cintai selain ayah. Seseorang yang kupanggil kakek. Mulai lagi membangkitkan kembali rinduku padanya. Namun mungkin aku tak mampu menyamakan rasa itu. Bagaimanapun perasaanmu tentu jauh lebih dalam. Bertahun-tahun kau hidup dengannya.
“Nak, kakekmu meninggal dunia.” Ada kesedihan yang kau tahan meski akhirnya kudengar tangismu pecah sewaktu menelpon. Sekuat tenaga pula kutahan buliran bening disudut mata agar tak menambah pilu. “Ada senyum terukir diwajah kakek, mengucapkan kalimat Allah pun tidak kesusahan diakhir nafasnya” katamu menutup kabar. Seperti harapanmu Ibu, semoga memang pertanda bahwa kakek menghadapNya dalam keadaan terbaik.
Aku pun sudah menyiapkan rasa kehilangan sejak kabar demi kabar terakhir tentangmu datang. Rasa yang selalu bermakna sedih. Rasa yang hanya singgah dihati orang-orang yang pernah merasa memiliki. Meski dihari-hari kemarin menyimpan berjuta harapan agar engkau kuat dalam melewati masa kritis dan Allah memberimu celah kesembuhan. Tapi betapa Dia lebih tahu segala.
Kek, kini aku hanya bisa mengenang kebersamaan kita. Ketika sewaktu kecil aku merasa engkau adalah “musuh bebuyutan” karena diantara cucumu yang lain hanya aku yang selalu dijadikan bahan olokan lalu seiring bertambah usia kupaham bahwa itu adalah ungkapan sayang. Ketika hari yang paling kunanti setiap liburan panjang adalah perjalanan kita menuju kebunmu yang luas di perbukitan, dengan perahu melewati sungai, penuh perahu dengan cucu-cucu tercinta. Atau saat diskusi panjang kita berdua pada sebuah topik dan buku-bukumu di sebuah siang juga petuah-petuah sederhana yang kau katakan. Lalu senandung lagu masa muda yang kau nyanyikan dan diam-diam kudengar maknanya. Sungguh, ingin kuurai semua kisah kita, kisah- kisah yang tak bisa kutenggelamkan dengan mudah dan terus akan kusimpan.
Kakek, selamat jalan... Maafkan aku tak menungguimu saat terakhir. Jiwa ini pun tak abadi, semoga IA memberikan kebaikanNya agar kita dapat berkumpul di syurga. Sepulang urusanku selesai dikota ini, aku akan menjenguk ditempatmu bersemayam, bertafakur sejenak melepas rindu setelah lebih setahun kita tak bertemu.
aku menonton jadwal rutin dengan sesekali jilbab melilit lehernya subuh-subuh terbangun bersahabat dengan kesempitan pasar bertahun-tahun membungkus hidup dengan segenggam sabar dan tubuh beraroma sayur entah kekuatan apa yang ia miliki tangannya bahkan lebih cekatan dan kokoh dari Si lelaki yang masih mendengkur berselimut lelaki pengecut yang selalu bermimpi tentang menangnya judi
pernah ingin kubertanya padamu, perempuan “Apakah hadirmu memang bertemu perih dan duka?” namun tanya itu kugantung “Selalu begitukah, wanita adalah tulang rusuk lelaki?” “Pengorbanan pada lelaki adalah garis hidup?” Sebuah kalimat yang kerap kudengar.
Seperti namamu, Nur mendefinisikan cahaya yang menjadi nakhoda keluarga, meski sering tarikan nafas berat dan kutahu ada luka
Silahkan bertandang atau berlalu pun kupersilahkan. Mari berbincang sejenak dengan Langkah-langkah kecil, Meyambut pagi membuang sepi, bersama malam terduduk diatas kebekuan. Nikmati saja sejuk air hujan, isyarat cinta-Nya berderai dikeningmu, mengajari mengejar mimpi. Hari ini pun mimpi, maka biarkan ia datang di hatimu...
About Me
Vitha Yolanda
Hanyalah seseorang yang ingin menjadi sederhana dan sedang belajar untuk tidak menTuhankan perasaan.