Wednesday, February 10, 2010

Bersemi


Bersemi


Terpaku, banyak lamunan lepas memandang kasihMU

Matahari, dingin pagi menyelusup, embun, kabut isyarat tak terbeli

Hanya termangu tak ada air mata

hening tak ada jeritan

tak ada yang berubah

lantas sesaat menebak-nebak rupa melempar pandang ruang hati

mengajak kenangan masuk tanpa kata-kata

Kau selalu ada.

Goreskan ini ditelapak tanganku;

Jadikan aku kembang bersemi dimataMu


vitha

08:00.10.02.2010


Aku masih berjumpa senja, Kakek…


Aku masih berjumpa senja, Kakek…


Senja, yang kutahu rimanya adalah waktu pulang setelah bergelut dengan matahari terang. Seperti saat ini, saat senja yang kuingat hanya jalan pulang: kematian, jalan pulang yang sepi.


Teringat lagi hari-hari ketika engkau mengajariku membaca duri, mengeja batu jalanan.

Kini tinggal aku yang mengembara, menyusuri taman- taman persinggahan, memetik hikmah di kebun kehidupan.


Perempuan ini, kakek…

Sering mematung dijendela, menatap gerimis kuat, mendengar suara angin basah, menikmati embusnya yang menyelusup dan memandang musim hujan bergerak pelan untuk berfikir dalam-dalam tentang singkatnya hidup. Kemudian adakala ia kaku memilih-milih jalan sahaja. Dan tahukah? Perempuan ini selalu merasa ruang begitu luas saat sendiri dan memilih diam walaupun mata masih memicing. Kemudian pura-pura memejam hingga akhirnya benar-benar tidur


Ia pun masih mengejar sesuatu yang tersembunyi diwaktu tertinggal, merangkai mimpi-mimpinya yang belumlah utuh, lalu belajar menikmati kebahagiaan dan kesedihan dari gegas-gegas langkah dan teringat kata-katamu “kalau jatuh, jangan menangis”


Kakek, ada senja yang ramah sore ini, apa kabarmu disana?


BUKAN PALSU TAPI DEMI UMAT!



BUKAN PALSU TAPI DEMI UMAT!



Memberi senyum pada setiap orang yang ditemui sangat mudah saya lakukan tapi untuk menjadi seseorang dengan kepribadian hangat, care, supel dan sejenisnya adalah hal yang sedikit sulit. Ribet juga ya kalau punya karakter dingin dan tak begitu suka banyak bicara dilain waktu mesti menciptakan nuansa nyaman maupun keramahan buat orang lain. Dengan tipikal karakter seperti ini ternyata berpengaruh besar pada profesi yang sedang ingin saya geluti. Dalam tiap kali training penyiar saja masih terasa begitu kaku, hasil rekaman pun seringkali mendapat kritikan bahwa saya kurang hangat dalam membawakan sebuah program. Tentu saja dalam artian hangat yang tetap dalam koridor syar’i.



It’s not real me! Rasanya bener deh begitu perasaan saya. Sampai-sampai mengatakan perubahan menuju seseorang yang “hangat” adalah sebuah kepalsuan. Namun akhirnya perlahan saya mulai menipiskan perasaan tak nyaman tersebut walau pun memang butuh proses, perlu belajar, karna pelatih yang juga menjabat pimpinan direksi suatu hari mengatakan kalimat ini, “ Menjadi seseorang yang baru bukanlah kepalsuan, tapi ini demi umat!” tegasnya. Saya memahamkan diri bahwa berubah menjadi seseorang yang baru dengan karakter lebih hangat bukanlah sebuah kesalahan. Bagaimanapun perlu untuk mengembangkan diri serta memperluas kemampuan. Dan bukankah seorang muslim memang mestinya ramah, mudah bergaul dan hangat pada orang lain?? Hmmm, demi umat, mudah-mudahan niat tersebut tidak luntur dihati ini.



Sunday, February 7, 2010

Bebas


Bebas

Kemarin memang sudah terlalu banyak kata
maka izinkan sejenak merenung
diam tak memandang cahaya
hingga hanya hari yang menemani
serta catatan-catatan kebekuan, dingin tanpa syarat

Tidak merasa indah
hati tak menjadi bias, adakah salah?
tangis dan amarah memang telah mengering sejak berbulan-bulan lalu
biarkan saja ketidakmungkinan memenuhi pikiran bebas melakoni dengan khusyu
layaknya burung bebas bergelayut dimanapun

semakin jauh pergi menuntas dan berujar tentang keinginan
hanya diriNya mendengar menjadi bait-bait beribu pertanyaan
barangkali nyaman menoreh kisah disepotong kertas melumat resah
simpan dalam ketukan kata-kata
kemanakah jiwa terbang?
kaki tak punya peta lain
kompas hanya mengarah satu
; Aku tetap milikMU

08022010
vitha

Thursday, January 28, 2010

Selamat Jalan, kakek..



Selamat jalan, Kakek...



Hari ini cerah, langit biru, matahari pecah sinarnya. Namun mendung bergelayut dirumahku. Ada air mata tumpah disana. Ada kesedihan mendalam dari mereka yang merasa memiliki. Air mata yang juga menghampiriku. Hari ini, aku meraba perasaanmu, Ibu. Menyamakan rasa kita pada lelaki yang sangat kau cintai selain ayah. Seseorang yang kupanggil kakek. Mulai lagi membangkitkan kembali rinduku padanya. Namun mungkin aku tak mampu menyamakan rasa itu. Bagaimanapun perasaanmu tentu jauh lebih dalam. Bertahun-tahun kau hidup dengannya.


“Nak, kakekmu meninggal dunia.” Ada kesedihan yang kau tahan meski akhirnya kudengar tangismu pecah sewaktu menelpon. Sekuat tenaga pula kutahan buliran bening disudut mata agar tak menambah pilu. “Ada senyum terukir diwajah kakek, mengucapkan kalimat Allah pun tidak kesusahan diakhir nafasnya” katamu menutup kabar. Seperti harapanmu Ibu, semoga memang pertanda bahwa kakek menghadapNya dalam keadaan terbaik.


Aku pun sudah menyiapkan rasa kehilangan sejak kabar demi kabar terakhir tentangmu datang. Rasa yang selalu bermakna sedih. Rasa yang hanya singgah dihati orang-orang yang pernah merasa memiliki. Meski dihari-hari kemarin menyimpan berjuta harapan agar engkau kuat dalam melewati masa kritis dan Allah memberimu celah kesembuhan. Tapi betapa Dia lebih tahu segala.


Kek, kini aku hanya bisa mengenang kebersamaan kita. Ketika sewaktu kecil aku merasa engkau adalah “musuh bebuyutan” karena diantara cucumu yang lain hanya aku yang selalu dijadikan bahan olokan lalu seiring bertambah usia kupaham bahwa itu adalah ungkapan sayang. Ketika hari yang paling kunanti setiap liburan panjang adalah perjalanan kita menuju kebunmu yang luas di perbukitan, dengan perahu melewati sungai, penuh perahu dengan cucu-cucu tercinta. Atau saat diskusi panjang kita berdua pada sebuah topik dan buku-bukumu di sebuah siang juga petuah-petuah sederhana yang kau katakan. Lalu senandung lagu masa muda yang kau nyanyikan dan diam-diam kudengar maknanya. Sungguh, ingin kuurai semua kisah kita, kisah- kisah yang tak bisa kutenggelamkan dengan mudah dan terus akan kusimpan.


Kakek, selamat jalan... Maafkan aku tak menungguimu saat terakhir. Jiwa ini pun tak abadi, semoga IA memberikan kebaikanNya agar kita dapat berkumpul di syurga. Sepulang urusanku selesai dikota ini, aku akan menjenguk ditempatmu bersemayam, bertafakur sejenak melepas rindu setelah lebih setahun kita tak bertemu.



I love you, Grandfa…

Kamis, 28 Januari 2010

Monday, January 25, 2010

Pertemuan Kita




Pertemuan Kita



Aku bingung, entah yang keberapa kali

mondar-mandir didepan pintumu

menyembunyikan galau terpaut

jengah sebenarnya, kikuk pun juga

lalu sesekali merutuki keberanian yang menjelma burung terbang

kemana mimpi?

menarilah bersama hati

bernyanyi bersama mentari

Apakah kau juga merasakan atmosfir galauku?

mengisi nafas, meresap ke pori-pori

Hari ini kukatakan, akau tak sedang merindu hujan

tapi rona mentari yang pecah sinarnya

lalu mulai kurangkai kata,

“ Bisa kita bertemu? Sudah lama kusiapkan pertemuan ini”



25.01.2010

Sunday, January 24, 2010

Perempuan Rusuk lelaki


Perempuan Rusuk lelaki

aku menonton jadwal rutin
dengan sesekali jilbab melilit lehernya
subuh-subuh terbangun bersahabat dengan kesempitan pasar
bertahun-tahun membungkus hidup dengan segenggam sabar
dan tubuh beraroma sayur
entah kekuatan apa yang ia miliki
tangannya bahkan lebih cekatan dan kokoh dari Si lelaki yang masih mendengkur berselimut
lelaki pengecut yang selalu bermimpi tentang menangnya judi

pernah ingin kubertanya padamu, perempuan
“Apakah hadirmu memang bertemu perih dan duka?” namun tanya itu kugantung
“Selalu begitukah, wanita adalah tulang rusuk lelaki?”
“Pengorbanan pada lelaki adalah garis hidup?”
Sebuah kalimat yang kerap kudengar.

Seperti namamu, Nur mendefinisikan cahaya
yang menjadi nakhoda keluarga,
meski sering tarikan nafas berat dan kutahu ada luka


21:17. 20.01.2010